Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Cerpen - Motivator Muda

 

Bismillah..
Tahu nggak?
Seorang lelaki yang memiliki pemikiran sederhana. Namun dari kesederhanaan pola pikirnya lah yang membuatnya bermutu.
Tahu nggak?
Sosoknya membuat banyak wanita mengaguminya, mungkin juga menyukainya.
Tahu nggak?
Mengapa demikian?
Jujur, sederhana, cerdas, manis, menawan dan beribawanya lah sehingga ia dikenal banyak orang. Dia juga pernah menjadi ketua dalam organisasi yang saya ikuti. Selain itu, pandai dalam berbicara di depan umum adalah keahliannya. Dapat dibilang, dia seorang motivator muda.
Begitu banyak impian yang ia miliki. Betapa banyak rencana yang ia telah susun. Semuanya tersusun rapi dalam otak, pikiran, dan benaknya. Gagal, ia pasti telah pernah melakukan suatu kegagalan. Tetapi, ia tak pernah putus asa dan menyudahi segala yang telah ia lakukan.
Yaaahh, dia adalah sosok Kakak Cakep *MOTIVATOR*.
Banyak hal yang saya dapatkan dari organisasi yang ia sering bimbing, tak kala saat-saat rapat dimana beliau memberikan kritik/saran yang bersifat membangun untuk oraganisasi kedepannya, ia terkadang marah apabila kami peserta rapat tidak memperhatikan seseorang yang sedang memaparkan sesuatu di depan kelas. Disaat melihatnya marah aku terkadang menertawakannya, “marah aja masih cakep” fikirku.
Keramahannya dalam menyapa semua orang, dan setiap ilmu yang ia berikan semua sudah tersave cantik dalam benakku. Terutama saat-saat tertentu, aku benar-benar fokus menyimak setiap kata yang beliau sampaikan. Lain lagi saat dimana aku bisa memperhatikannya dalam jarak dekat, walaupun terkadang ia membuyarkan lamunanku dengan canda guraunya. Beliau banyak megajarkan kami banyak hal dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Setiap pertemuan dalam organisasi, ku perhatiakan dia dalam arti “ingin menjadi seperti dia yang ku kagumi”. Bukan bermaksud memata-matai nya. Aku mengaguminya tak berarti aku menyukainya. Dia sebatas sosok kakak yang hebat di mata ku. Di antara sekian banyak pelajaran yang kupetik darinya, ada satu pelajaran yang sangat bermakna untukku, bahkan berkatnya hal itu sudah menjadi prinsip dalam pribadiku
*saling menghargai itu penting..
THE END



Thank’s to: Kak IRWAN HASAN
Cerpen Karangan: Andi Mely Hairuddin
Facebook: Andii Melyy

Profil penulis:
Nama: andi mely hairuddin
Paggilan: amel
Status: mahasiswi Universitas negeri makassar
Jejaring sosial:
Facebook: andii melyy
Twitter: @andiimelyy


Cerpen - Kasih Tak Sampai (Cinta Gengsi)

 

Kedua bola matanya masih menatap hujan dari jendela kelasnya. Yang memang kini giliran saat musim hujan beraksi, setelah musim panas berlalu dengan sendirinya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, entah apa yang menghalangi pendengarannya, Rebeca terkejut ketika sahabatnya, Elsa memanggilnya.
“Rebecaaaa!”
“Hah? Eh iyaaa? Kenapa?” sahut Rebeca kemudian setelah Elsa telah memanggilnya berulang kali.
“Lo kenapa?” Tanya Elsa memastikan.
“Gak kok, gua fine-fine aja hehe.” Jelas Rebeca yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kantin yuk!” ajak Elsa mengalihkan topik pembicaraan seolah tidak peduli dengan sahabatnya itu.
“Gak ah, gua lagi males.” Jawab Rebeca dengan ekspresi datar.
“Ya udah, gua cabut dulu ya. Take care!” sambung Elsa kemudian yang seakan sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya dan sekaligus mengakhiri pembicaraan.
Elsa meninggalkan ruangan kelas yang mulai tak beraturan itu. Wajar saja, sekarang adalah waktu interval. Anak-anak bebas melakukan apa saja pada jam ini, asal tidak melanggar peraturan yang berlaku di salah satu sekolah Swasta Favorit di Jakarta itu.
Sementara Rebeca, melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Matanya kembali tertuju pada hujan yang masih juga turun dengan derasnya. Melihat hujan yang seakan juga sedang melihatnya. Memperhatikan setiap langkah kilatnya, berharap sang hujan mengetahui arah tujuan hatinya juga mendengar raungan hatinya. Menyaksikannnya dengan penuh kepekaan, seolah hujan itu mengerti tentang apa yang Ia rasakan dan mengetahui persis tentang apa yang terjadi pada dirinya. Suara gemuruh sebagai ciri khas pembawaannya, seolah sedang berbisik dengan batinnya. Meski lalu lalang anak-anak yang mulai bertebaran menghalangi pemandangan yang sedang asyik Ia tonton, Ia tak peduli. Sampai pada akhirnya bel pun menyadarkannya dari lamunannya itu. Sekaligus sebagai tanda bahwa interval telah berakhir.
Selang beberapa menit kemudian, Ibu Vega, guru piket pada hari selasa datang memberikan tugas mencatat. Beliau menyampaikan, bahwa Ibu Yeshi, guru Matematika, tidak dapat mengajar pada hari ini dikarenakan ada keperluan di Dinas Pendidikan. Tentu, hal ini menjadi kabar gembira bagi anak-anak yang mulai lelah pada jam pelajaran yang mendekati terik, terlebih pelajaran matematika.
”Caaa, gua duduk sini ya?” suara sesosok yang selama ini ada dalam pikirannya, kini terlintas jelas dalam otaknya bahkan dalam jangkauan penglihatannya, sebut saja Ari.
“Oh iya, duduk aja.” Balas Rebeca yang jelas masih terlihat kaget dan terkesan agak salting itu.
“Eh, Ca, temen sebangku lo kemana?” sambung Ari kemudian membuka pembicaraan.
“Hah? Eh siapa? Fika? Hmm… gua kurang tau, Ri.” Kata Rebeca ngasal. Sebenarnya Rebeca tahu alasan kenapa teman sebangkunya itu tidak masuk hari ini. Dia izin, karena menjemput saudaranya yang baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Orangtuanya sibuk dengan kerjaannya masing-masing, terpaksa Fika menuruti tugas dari kedua orangtuanya itu.
“Lo kenapa, Ca? kok kayak orang gugup gitu? Lo sakit? Apa lagi ada masalah?” kata Ari yang sontak membuat Rebeca shock terlebih lagi GR.
“Eh gak kok, Ri. Sorry, gua lagi gak konsen nih.” jawab Rebeca.
“Oh ya udah, lo kalau ada masalah cerita aja ke gua, siapa tau gua bisa bantu.” Kata Ari dengan memberikan setitik senyuman maut di wajahnya itu dan ini membuat Rebeca menaruh harapan lebih ke Ari.
“Hmm… Thanks, Ri!” jawab Rebeca singkat. Mulutnya seolah terkunci. Blank! Sampai Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Detak jantungnya beroperasi lebih cepat dari biasanya. Sampai Ia takut kalau Ari akan mendengarnya.
Jam pelajaran berganti. Kini giliran Ms. Dini yang mengajar. Tapi bejonya, Ms. Dini tidak dapat mengajar di jam pertama akibat menangani kasus anak didiknya. Selain menjadi guru bahasa Inggris, Ms. Dini juga ditugaskan sebagai Wali kelas anak kelas 11. Walaupun Ms. Dini terkenal enak dengan cara mengajarnya, tapi jam-jam kosong seperti ini ditunggu-tunggu oleh setiap anak kelas 12 yang merasa terbebani dengan tugas-tugas sekolah akhir-akhir ini. Kesempatan ini pun tidak akan mereka sia-siakan. Ari yang tadinya duduk di sebelahnya kini terlihat sudah bergabung dengan anak laki-laki lainnya. Suasana yang tadinya memang sudah tidak bersahabat kini semakin riweuh dengan keterlambatan Ms. Dini.
Rebeca pun tidak menyia-nyiakannya, Ia mulai mengeluarkan buku hariannya yang selalu Ia bawa kemanapun Ia pergi. Dia tidak ingin ada yang menyentuh apalagi membacanya. Baginya, itu adalah buku keramat yang tak seorangpun tidak boleh tahu. Bahkan, Ia pernah pulang lagi ke rumah demi mengambil buku keramatnya, Ia takut apabila bukunya ditemui oleh adiknya yang terkenal jahil di keluarganya itu.
Dengan lancarnya, Rebeca mulai menuangkan semua yang ada dalam pikirannya ke dalam buku kesayangannya itu.
06/02/2014
Dear Diary,
Aku gak tau tentang perasaanku kali ini. Aku senang bisa duduk bersebelahan dengannya. Aku senang bisa ngobrol dengannnya, meski tak sebanyak kalimat yang aku harapkan. Aku bahagia.
Aku merasa nyaman saat berada di dekatnya, yang tak pernah aku rasakan ketika aku duduk dengan lelaki lainnya. Dia seperti malaikat yang bisa melindungiku dari segala marabahaya.
Ya Tuhan, apa dia memiliki perasaan yang sama terhadapku? Apa ini hanya harapanku saja? Ya Tuhan, apa aku salah telah menyukai orang yang mungkin masih menyukai sahabatku, Elsa?
Ya Tuhan, andai aku mengenalnya lebih dulu dibanding sahabatku. Mungkin ada kesempatan bagiku untuk memilikinya. Mungkin dia tidak akan tersakiti olehnya, akibat penolakkannya. Mungkin saja dia akan bahagia denganku sekarang.
Ya Tuhan, biarkan semua ini tersimpan dalam benakku. Biarkan perasaan ini hanya Engkau, aku dan Wina, sahabat Penaku yang tahu. Dan juga buku ini yang menjadi saksi atas perasaanku.
Aku gak mau! Kalau saja si Elsa tau tentang perasaanku ini. Apa jadinya aku nanti? Gimana jadinya bentuk mukaku nanti? Seperti kepiting yang baru saja direbus dan kemudian siap disantap oleh penikmatnya? Begitu? Aku gak mau! Mau taruh dimana mukaku ini?
Ya Tuhan, sedikitpun aku gak mau membayangkannya. Aku gak mau menanggung malu nantinya. Aku gak mau sahabatku menertawakanku atas perasaanku kepada sesosok yang pernah menyukainya.
Ya, Tuhan, bantu a…
“Ca, lagi apa lo?” kata Elsa yang tiba-tiba nongol dengan suara lantangnnya yang otomatis mengagetkan Rebeca yang belum menyelesaikan curhatannya itu.
“Eh, elo, Sa. Gak kok, lagi iseng aja gua.” Sahutnya sambil memasukkan buku keramatnya itu ke dalam tas mungilnya.
“Pulang sekolah lo ikut gua ya, lagian ujannya udah mulai reda.” Ajak Elsa yang percaya dengan alasan sahabatnya itu.
“Kemana?” jawab Rebeca penasaran.
“Udah, tar lo juga tau.” Singkat Elsa.
“Oke deh, tapi pulangnya jangan sore-sore banget ya?” lanjut Rebeca.
“Siaap bos!” ledek Elsa.
Setelah Elsa kembali ke tempat duduknya, tidak lama Ms. Dini masuk ke kelas dan meminta maaf akibat keterlambatannya dan kealpaannya memberikan tugas. Anak-anak yang mempunyai sejuta akal dan patut diacungi jempol untuk kekompakannya, bersekongkol untuk seolah-seolah tidak terima dengan keterlambatan Ms. Dini itu. Berbagai alasan yang mereka lontarkan membuat Ms. Dini menjadi semakin merasa bersalah. Dan kejadian ini pun sukses menjadikan kelas ricuh kembali. Untungnya, ada salah seorang anak yang menyudahi sekaligus menengahi keributan yang tak pantas untuk ditiru. Akhirnya, Ms. Dini kembali mengajar dengan cara yang tak disegani anak-anak itu. Selang beberapa menit, bel pun menghentikan aktivitas siswa yang sedang mengerjakan tugas dengan giatnya. Dilanjut merapihkan buku dan doa bersama.
“Ca, jadi ikut kan?” Tanya Elsa memastikan.
“Iya Oke, mau kemana?” Rebeca balik Tanya yang mulai beranjak dari bangkunya.
“Taman.” Jawab Elsa dengan senyuman.
“Taman sekolah? Mau ngapain?” Tanya Rebeca dengan raut muka yang jelas semakin penasaran.
“Iya taman sekolah, masa iya mau ke taman Bogor. Jauh keleeesss! Ayooo ikut aja!” Elsa menarik tangan Rebeca. Membawanya ke tempat yang sudah di dekorasi dengan indahnya ditambah sisa aroma khas hujan yang masih tersisa, sesekali sejuknya embun yang merasuk jiwa terbawa oleh tiupan angin yang sepoi-sepoi, membuatnya jatuh dari tempat persinggahannya. Indah sekali! Menjadikan suasana yang romantis bagi dua insan yang sedang dimabuk cinta. Membawa kegembiraan bagi anak cucu adam yang menginjakkan kaki diatasnya.
“Sebenarnya ada apa sih?” Tanya Rebeca lagi.
“Ah elo, Ca! kemaren-kemaren kemana aja? Sibuk sama buku-buku lo sih.” Ledek Elsa lagi. Memang, Rebeca adalah salah satu siswa berprestasi di sekolahnya itu, seringkali dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
“Saaa, gua serius!” jawab Rebeca, kali ini dengan muka memelas.
“Hehe sebenernya, kita disini mau ngeresmiin hubungan Ari dengan Andini. Dan gua, sebagai mak comblang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas dengan baik. Agar supaya statusisasi hubungan mereka jelas dan tidak ada lagi kontroversi hati ataupun kudeta hati tetapi timbul yang namanya konspirasi kemakmuran yang mencakup harmonisisasi tanpa memanipulasi yang telah diapresiasi.” Jeplak Elsa sembari cengengesan dan sedikit lebay kata-katanya yang masih menirukan gaya Vicky yang sempet booming tahun lalu itu.
“Ari sama Andini?” Rebeca meminta kepastian tanpa menghiraukan ocehan sahabatnya itu.
Belum saja Elsa, menjawab pertanyaan Rebeca. Ari diikuti Andini datang dengan waktu yang sudah direncanakan. Elsa yang memang dari tadi menunggu kedatangan mereka, menyambut dengan suka cita. Bak seorang ibu yang sedang menunggu kehadiran anaknya duduk di atas pelaminan yang sebentar lagi akan resmi menjadi sepasang suami istri bahagia.
Sementara Rebeca, matanya mulai berkaca-kaca. Dadanya mulai terasa sesak. Rasa yang pada awalnya hanya sebatas rasa suka, menjadi rasa sayang seiring dengan berjalannya waktu tanpa Ia sadari. Kini, rasa sayangnya telah berubah menjadi rasa sakit yang tidak pernah ia harapkan dalam kisah percintaannya. Hatinya remuk melihat semua yang ada di depan matanya. Seperti seorang budak yang mendapat perlakuan tidak pantas dari majikannya. Seperti hamba sahaya yang hanya bisa menerima semua perlakuan si empunya. Pasrah, hanya itu yang dapat Rebeca perbuat kali ini. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Sekarang yang ada di pikirannya adalah Ari dan rasa penyesalannya.
Ari, orang yang baru saja Ia ceritakan dalam buku keramatnya. Orang yang selama ini ada di dalam benakknya, sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Itu berarti tak ada kesempatan baginya untuk memilikinya. Rebeca tidak bisa membendung kesedihannya. Ia menyesal tidak menceritakan kepada sahabatnya itu. Karena, baginya itu mustahil. Dia lebih mementingkan gengsinya. Kini Ia menyesali perbuatannya itu. Andai semuanya tahu tentang perasaannya, mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Setidaknya Dia tidak akan bertanya-tanya kepada dirinya yang tidak tahu-menahu itu tentang apa yang dirasakan oleh orang yang disayanginya.
Tak ada jalan keluar, melainkan jalan buntu yang menghadang. Air mata yang seharusnya tidak keluar dari kedua matanya, kini mengalir deras. Seolah hujan telah berpindah ke mata indahnya itu.
The End


Cerpen Karangan: Chaerunisa (Icha)
Facebook: Icha Chaerunisa (Arch Angel)
I’m Chaerunisa, you can call me Icha. I love singing, writing, and playing voley ball. I’m student. And I love English. I love my bestfriend. Mmmm… One more, I’m Arch Angel. I really love David Archuleta. And also My parents. I love them so much. Forever. Oh yaaa, follow my twitter @Icauls, and invite my line: Ichaanisaaa. Thanks!


Cerpen - Cinta Dalam Hati

 

“Alika Maharani” itu namaku. Aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku mengagumi seseorang, dia adalah teman sekelasku di kelas X dulu, namanya “Faiz”. Orangnya keren, ganteng, tapi sedikit menyebalkan. Dia memang siswa yang cukup pintar di kelas bahkan dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Saat pertama aku bertemu dengannya, aku sempat tidak suka padanya, sikap cuek dan sok cool nya itu yang membat dia terlihat menyebalkan di hadapanku. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia menjadi sosok yang istimewa di hadapanku, padahal sikap cuek dan sok cool nya itu masih tetap terlihat di dirinya.
“Al, tau gak sih, Faiz baru putus tuh sama pacarnya.” kata temanku, Shayna.
Deg.. deg.. deg..
“Yes.. Yes.. Yes..” teriakku dalam hati.
“Oh ya? Masa sih? terus emangnya kenapa kalau Faiz putus, masalah gitu buat gue?” tanyaku pura-pura tak peduli.
“Ihh, Alika gak seru… Gue tau lo gak suka sama dia tapi ekspresi lo gak usah gitu juga dong, lo kaget atau gimana gitu?”
“Oh.. cius? Miapa? Macacih? Gitu hah?”
“Ah, gak asik.” Shayna pergi meninggalkanku.
Aku melihat ke arah Shayna pergi, melihat dia benar-benar pergi atau hanya pura-pura.
Setelah memastikan dia benar-benar menghilang dari pandanganku, aku melompat-lompat gak jelas, tanpa peduli banyak siswa yang melihat tingkah konyolku termasuk Faiz. Duh malu banget deh aku.
“Lagi seneng ya?” Tanya Faiz padaku
“Hah? Dia ngomong sama gue?” ucapku dalam hati.
“Yah, malah bengong” katanya bingung dan berjalan meninggalkanku.
Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandanganku dan mulai bertanya dalam hati.
“Tadi dia ngomong sama gue yaa? Ya Tuhan.. itu pertama kalinya dia ajak gue ngomong, biasanya suaranya itu mahal banget buat gue.”
Hehe, aneh ya memang aneh. Aku memang satu kelas dengannya tapi setelah hampir 3 tahun kenal, dia baru ngajak aku ngomong.
Esoknya aku bertemu lagi dengannya, kali ini dia tersenyum padaku, senyumnya benar-benar manis. Aku baru melihatnya tersenyum seperti itu. Entah kenapa rasanya aku ingin waktu berhenti saat itu juga. Aku ingin lebih lama menatap senyum manisnya itu.
“Hai..?” sapanya padaku
“Eh hai juga, apa kabar, Iz?” tanyaku gugup.
“Baik, kamu?”
“Aku sangat.. sangat baik.” Jawabku sambil terus menatap senyumnya yang masih terpasang untukku.
“Oh.. masih seneng kaya kemaren?”
“Hah?? Kali ini lebih dari itu Iz.”
“Oh ya.. mau bagi-bagi senengnya gak sama aku?”
“Hah? Emang kamu lagi gak seneng?”
Faiz hanya menggelengkan kepalanya.
“Lagi gak seneng aja senyum kamu udah manis banget gitu, apalagi kalau lagi seneng ya, pasti senyuman kamu bisa ngalahin manisnya gula deh.”
“Aduh.. kamu gombal banget ya.. Eh iya aku mau gombal juga deh.”
“Apa?”
“Kamu tau gak bedanya kamu sama pelajaran?”
“Gak tau, emang apa?”
“Kalau pelajaran itu aku simpan di otak aku, tapi kalau kamu aku simpan di hati aku.”
“Wow.. so sweet banget, ternyata kamu gak nyebelin yaa..”
“Hah? Emang selama ini aku nyebelin?”
“Iya.. nyebelin banget. Dari kelas X, baru kali ini kamu ajak aku ngobrol dan dari kelas X juga, baru kali ini kamu gak cuek sama aku.” Jawabku blak-blakan.
Aku segera menutup mulutku dengan kedua tanganku.
“Hehe, iya juga sih..”
“Kamu gak marah aku ngomong kaya tadi?” Tanyaku hati-hati.
“Gak lah.. tenang aja kali, emang kenyataan juga kan?”
Aku hanya tertunduk malu.
“Makasih ya udah bikin aku gak cuek lagi.” Katanya sambil tersenyum dan pergi.
“Ya ampun dia itu makin keren aja deh. Jadi makin suka gue, andai dia juga bisa suka sama gue, duh gue pasti bahagia banget.” Kataku sambil berkhayal.
“Hayo.. ketahuan ya lo suka sama Faiz.” Ucap Shayna yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku pun berbalik.
“Shayna,” Ucapku kaget.
“Ternyata lo suka ya sama cowok cuek dan sok cool itu. Katanya gak bakal suka?” Ledek Shayna.
“Aduh Shay, plis deh gak usah lebay, tadi kan gue cuma…”
“Cuma apa? Udah deh gak usah banyak alesan, benci itu bisa berubah jadi cinta kok..”
“Hmm.. iya sih gue akuin gue emang suka sama Faiz, tapi lo jangan bilang siapa-siapa yaa?” pintaku.
“Hmm, gimana yaa?”
“Ihh, Shay plis, lo kan sahabat gue yang paling cantik..”
“Haha.. Iya deh, lo tenang aja. Eh tapi lo udah bilang belum kalau lo suka sama dia?”
“Ya belum lah, lagian gue juga gak bakalan bilang kali.”
“Loh kok gitu?”
“Gue gak mungkin kan bilang ke dia, bisa-bisa dia jauh lagi sama gue. Deket sama dia tuh susah Shay.”
“Tapi kan lo belum tau perasaan dia ke lo gimana, barangkali aja dia suka juga sama lo.”
“Gak mungkin Shay. Gue tau siapa dia, gue tau gimana tipe cewek idamannya. Biarin aja gue simpen cinta ini dalam hati. Cukup gue, lo dan Tuhan yang tau.” Kataku sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Shayna.
Beberapa bulan kemudian..
Hari ini perasaanku benar-benar tak karuan, entah kenapa aku sangat takut, takut kehilangan Faiz. Ya, hari ini adalah hari perpisahan kelas XII, aku takut berpisah dengan Faiz, cowok nyebelin dan sok cool itu benar-benar membuatku galau.”
Saat aku tengah asik menggalau, aku mendengar banyak cewek-cewek meneriakkan nama Faiz. Ternyata saat itu Faiz akan tampil, ya dia suka banget sama nyanyi. Kali ini dia akan tampil menyanyikan sebuah lagu di acara perpisahan.
“Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang telah membuat saya berubah, seseorang yang telah mengajari saya tentang arti sebuah CINTA” katanya sambil tersenyum dan mulai memainkan gitar di tangannya.
“Menatap indahnya senyuman di wajahmu,
Membuatku terdiam dan terpaku,
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku.
Banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan
Kepada dirimu..
Aku ingin engkau slalu hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku,
Kau tercipta untukku, sepanjang hidupku.”
Suaranya benar-benar merdu, menenangkan hatiku. Tiba-tiba dia menyimpan gitarnya dan menghampiriku. Dia berlutut di hadapanku dan mengatakan.
“Alika, will you be my girlfriend?”
Jujur aku bingung setengah mati mendengar pertanyaannya. Aku kira itu mimpi, dan andaikan itu mimpi, aku berharap aku gak bangun dari tidur aku.
“Apa? Kamu lagi bercanda ya?” tanyaku bingung.
“Alika, aku gak pernah bercanda.”
“Tapi.. gimana mungkin kamu bisa suka sama aku, sedangkan selama ini aku tau kamu itu cuek banget, nyebelin..”
“Cinta itu bisa datang kapan aja tanpa kita duga sebelumnya. Aku memang bodoh, aku cuek dan gak mau tau soal pendapat orang tentang cueknya aku. Tapi, waktu itu kamu bilang yang sebenarnya tentang aku, aku sadar, aku butuh orang lain, gak seharusnya aku cuek dan gak peduli sama orang lain, iya kan?”
Aku tersenyum mendengar ucapan Faiz.
“Jadi, apa jawaban buat aku?”
Aku hanya mengangguk pasti. Faiz berdiri dan berkata.
“Janji ya, kamu mau ngerubah aku jadi lebih baik lagi, dan bikin semua orang gak benci lagi sama aku.”
Aku hanya tertawa.
“Yang bisa ngerubah kamu itu diri kamu sendiri, bukan orang lain.”
“Tapi kamu mau bantu aku kan?”
“Iya..” kataku sambil tersenyum.
Itulah kisahku, kisah cinta dalam hati, yang selama hampir 3 tahun aku pendam.
End

Cerpen Karangan: Anisa Puspawati
Blog: anisapuspawati.blogspot.com

penulis: Anisa Puspawati
alamat: Cirebon, Jawa Barat
umur: 18 tahun
fb: Anisa Puspa Gitalovers
twitter: @anisaa_117
web: anisapuspawati.blogspot.com



Cerpen - Hanya Dunia Lain


Di sore hari, saat gue sedang berjalan ke pelosok desa terpencil di sebuah hutan jauh dari keramaian, gue lihat ada sebuah rumah tua yang menurut gue sudah gak layak huni, gak tau kenapa ada rasa yang mndorong gue buat ngelihat ke dalam, akhirnya gue gerakan kaki dengan melangkah perlahan, setelah di muka rumah, gue ketuk pintu dan memberi salam, 3 kali udah gue lakuin, tetapi gak ada jawaban, jadi gue pikir mungkin gak ada orang sepertinya di dalam.
Lalu gue coba buat ngeberaniin diri untuk melihat ke dalam, gue buka pintu tua itu dengan agak sedikit takut, KREKOOOTTT!!!, begitu kira kira suara pintu yang dengan perlahan gue buka, gue lihat sekitar ruangan, begitu sepi, berantakan dan sedikit sarang laba laba di sudut sudut ruangan, juga Gue lihat ada 1 lukisan usang, yang bergambarkan seorang nenek yang sedang menenun kain, karena penasaran gue lanjutin melangkah lebih ke depan.
Gue jelajahi kamar satu persatu, tiba tiba kresss!!! Fuhhh, hanya bekas pecahan gelas kaca di lantai yang gue injak, bikin gue sedikit kaget, dan begitu gue masuk kekamar yang tengah, alangkah kagetnya gue ngelihat seorang perempuan memakai piama putih, berambut panjang dengan tatapan kosong ke arah gue, tapi kenapa gue cuma bisa diam saat itu, bulu kuduk pun merinding, dan kemudian gue baru sadar dan gue kaget, gue pun langsung lari terpingkal pingkal, bahkan sesekali sampai jatuh.
Gak terasa gue sudah jauh dari tempat itu, dengan nafas setengah mati, gue duduk di dekat pohon, gue sandarin badan gue ke pohon, gue tarik nafas dalam, gue tenangkan sejenak. karena gue lihat matahari sudah mulai tenggelam, gue lanjutin untuk berjalan pulang, Tapi tiba tiba, saat gue mulai melangkahkan kaki, gue ngelihat sebuah rumah itu lagi ada di depan gue, “HAHH!!!” Gue tercengang dan kaget lagi, alhasil gue berlari lagi, lari lebih jauh lagi, dan lagi lagi gue bertemu dengan rumah tua itu lagi, sepertinya gue hanya berlari di tempat itu itu saja.
Dengan bermandikan keringat yamg terus mengucur, gue ketakutan, gue kacau, gue kecapean, “arrrggghhh”. tubuh gue rasanya sudah kehabisan stamina, gue mulai lemas, dan gue juga mulai lapar.
Lagi tiba-tiba, sesosok nenek nenek muncul dari arah belakang gue, dengan wajah yang menyeramkan, sepintas gue lihat wajahnya mirip sama yang ada di lukisan. “UWAAA!!!” Kaget bukan kepalang, gue pun berlari lagi, tapi kali ini rasanya begitu berat, gue lihat ada sebuah sepeda ontel tua tahun 70an, ‘mungkin lebih baik gue ngdrive itu aja’ pikirku dalam hati.
Dengan kencang gue kayuh sepeda itu, na’as, saat itu ada turunan tajam, karena gak ada remnya, gue pun terjatuh tersungkur, karena gue menjatuhkan diri gue sendiri ke arah lain, dan sepedanya!, Sepedanya menabrak pohon besar, dan gak bisa lagi digunain, gue merintih kesakitan, tapi itu lebih baik menurut gue, yang penting gue sudah jauh dari rumah itu.
Hari udah mulai gelap, lagi, gue pun bergegas bangun dan berjalan… Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya gue berada di tepian jurang, ternyata gue tersesat, hanya menelan ludah dan dengan rasa lelah, lagi lagi, sepertinya ingin membuat diri gue menangis sesak…
Tiba tiba gue lihat di sekeliling, begitu banyak sekelompok buaya, yang perlahan mulai mendekati gue, gak tau harus kemana lagi dan berbuat apa, sedikit demi sedikit gue mundur, mundur dan mundur, bagai telur di ujung tanduk, ya begitulah kata pribahasa yang mewakili keadaan gue saat itu, gue bingung, akhirnya gue tergelincir, gue pun terjatuh… “Aaaaaaa”
BLEGG!!! Hmmmm lalu gue terbangun dan sadar, kalau ternyata gue jatuh dari tempat tidur,
Huhff miris…
Gerah, pengap, wajah dan rambut kusut… Gue pun langsung beristighfar, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya, gue lihat jam di dinding, ternyata waktu sudah hampir magrib, gue baru terbangun dari tidur.
Jadi buat para pembaca , jangan tidur berlebihan apa lagi sampai mendekati waktu magrib, selain bisa menyebabkan mimpi buruk juga tidak baik. Dan Jangan lupa juga baca doa.
Wassalam…

Cerpen Karangan: Ze Arrosyid
Facebook: Zeze Arrosyid

Cerpen - Salah Pikir


“Two two four four yeah! six go!”
Suara-suara itulah yang kudengar ketika aku sampai di rumah usai pulang sekolah. Aku melihat sesosok orang duduk di kursi depan komputer. Terkadang, juga kudengar suara “miss, great, perfect, cool, huuu”.
Aku bingung. Aku tak tahu. Aku tak mengerti suara apakah itu. Aku terus memantau orang itu agar aku tak penasaran. Sayangnya, aku tak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya. Aku mencoba mencari jalan keluar. Setelah aku berpikir di dalam keheningan malam, aku mendapatkan jawaban tetapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk mengatasi hal itu.
Keesokan harinya, tepat di hari Minggu usai pulang goes dengan temanku di kawasan Simpang Lima CFD (Car Free Day), aku kembali pulang ke rumah. Lagi-lagi dan tak kusangka-sangka, aku mendengar lagu-lagu aneh yang tidak pernah kudengar. Lagu-lagu itu rata-rata berlirik bahasa Korea ataupun juga berbahasa Inggris.
“I catch myself thingking why you are here by my side, saranghae sincerely from my heart my reason to smile, you’re the joy of my life my life, forever and ever my baby”
Lirik-lirik itulah yang kudengarkan ketika hendak memasuki rumah..
Ketika aku sudah sampai di dalam rumah, ternyata lagi-lagi orang itu yang membunyikan lagu seperti itu dan sedang berada di depan komputer. Aku mencoba mendiamkan orang itu. Namun, semakin lama kudiamkan suara itu semakin keras dan bunyinya tidak beraturan.
Di saat lagu itu berkumandang, sering kali kudengar ada kata-kata yang hari sebelumnya sudah aku dengar berulang-ulang kali ketika orang itu berada di depan komputer yaitu “miss, huu, great, cool, perfect, go!”.
Aku bosan mendengarkan suara-suara itu, aku memilih pergi jalan-jalan dengan teman-temanku ke berbagai tempat di wilayah Semarang. Aku pergi jalan-jalan dengan temanku menaiki sepeda. Aku pergi hingga larut malam, dan sampai di rumah sekitar pukul 21.30 WIB. Ketika aku masuk ke rumah, orang itu ternyata sudah tidak ada di depan komputer. Lalu, aku mandi dan kemudian aku pun tertidur karena lelah dan capai.
Saat tengah malam, aku terbangun karena aku lapar. Setelah kenyang, aku melanjutkan tidurku. Di saat aku tertidur, aku bermimpi memimpikan orang yang tidak aku kenali sebelumnya yang berada di depan komputer. Ternyata, ia seseorang yang galak dan bersosok hitam besar seperti “genderuwo”.
Keesokan harinya saat aku sudah terbangun yaitu sekitar pukul 08.30 WIB, Mami dan Oohku datang. Ternyata oh ternyata, Mami dan Oohku yang bernama Wawan datang bersama orang yang tidak aku kenali yang sering berada di depan komputer ketika Mami dan Oohku pergi. Aku bertanya kepada Oohku dan terjadilah sebuah percakapan.
“Itu sapa sih Oh?” tanyaku.
“Oala, dia itu temenku Nit, Kenapa?” jawabnya.
“Dia kok sering ke sini tapi diem-diem sih? Buat kaget sama nakut-nakutin aja. Huh!” ungkapku.
“Hus..! Jangan gitu. Dia temen Ooh, namanya Raisa. Dia Ooh suruh main ke sini buat nemenin kamu.” kata Oohku.
“Oala, namanya Kak Raisa. Maafin aku ya Kak, aku udah ngira yang enggak-enggak.” kataku sambil aku bersalaman dengan Kak Raisa.
“Kak, aku mau tanya nih. Boleh nggak? Waktu Kakak di depan komputer, Kakak itu ngapain sih? Kok banyak suara-suara miss, great, cool, perfect. Sering juga yang six, six, eight, two, go!, yeah!. Ada juga lagu-lagu yang pake bahasa Inggris ataupun bahasa Korea.” tanyaku seraya aku penasaran.
“Hehe.., itu game online Nit.” Jawab Kak Raisa.
“Nama game onlinenya apa Kak kalo boleh tau? Kayaknya asik juga gamenya.”
“Nama game onlinenya Audition Ayodance. Itu gamenya bagus kok Ganita. Kalau kamu mau, nanti Kakak ajarin deh. Gimana?” ungkap Kak Raisa.
“Okee Kak..!” jawabku dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa.
Kemudian, aku, Ooh, Mami, dan Kak Raisa pergi makan bersama.
Setelah aku mengenali Kak Raisa, ternyata Kak Raisa adalah orang yang berkepribadian yang baik dan humoris. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bersahabat dengan Kak Raisa.
Malam hari pun tiba begitu cepat dan tak terasa bahwa hari itu sudah malam. Aku memutuskan untuk beranjak tidur. Saat tengah malam, aku terbangun dan aku beranjak untuk keluar kamar. Lagi-lagi, ada seseorang yang duduk di depan komputer. Aku pikir, itu Kak Raisa. Setelah kudekati, ternyata… itu memang Kak Raisa.


Cerpen Karangan: Ganita Ridwan Surohardjo
Facebook: https://www.facebook.com/ganitaunyu
Blog: ganitaridwan.blogspot.com
Namaku Ganita Ridwan Surohardjo, aku tinggal di Semarang. Aku menjadi Ketua OSIS di SMP Kebon Dalem Semarang (2012-2013). Aku lahir di Semarang, 21 September 1999. Aku punya OlShop www.facebook.com/GNTShopSemarang