Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2016

Budi Anduk Meninggal Dunia


Komedian Budi Anduk dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka tersebut menjadi viral di dunia maya, Senin (11/1/2016).

Dilansir Liputan6, komedian Budi Anduk dikabarkan meninggal dunia, Senin, di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Kabar tersebut diperoleh dari Twitter rekan Budi Anduk, Maman Suherman dan Junior Liem.
“Turut berduka cita sedalam-dalamnya utk teman, sahabat, orang yg humoris rendah hati, bang budi anduk.. Semoga baik2 di surga ya bro,” tulis @juniorliem.

Di Twitter, wartawan yang juga pengisi acara Indonesia Lawak Klub Maman Suherman turut mengabarkan kematian Budi Anduk. ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka atas wafatnya sahabat kami, anggota @PP_PasKI Budi Anduk,” cuit Maman beberapa menit yang lalu.

Sebelumnya, Minggu (10/1/2016), Daus Mini melalui akun Path-nya, mengabarkan kondisi kritis Budi Anduk. “Mohon dengan ikhlas untuk mendoakan saudara kita Budi Anduk yg saat ini kondisinya sedang kritis kembali,” tulisnya, sebgaimana Solopos.com kutip, Senin.

Dalam postingan foto Daus Mini, tampak Budi Anduk terkulai lemah. Daus Mini juga memberi keterangan tempat ia berada, yaitu Ruang Tunggu CVCU Harapan Kita.

Sementara itu, sahabat Budi Anduk, Ustaz Munawir, menjelaskan Budi Anduk sudah lama dirawat di rumah sakit karena ada benjolan di bawah dagunya.

“Masuk rumah sakitnya sudah lama sebenarnya, waktu itu dibawa sama keluarganya ke Cirebon yang saya tahu ada benjolan di bawah dagu saat pertama kali saya jenguk. Benjolannya termasuk besar,” kata sang ustaz seperti dikutip Detik dari Selebrita Trans 7, Senin.

Menurut Munawir, benjolan di bawah dagu Budi Anduk membuat komedian berambut ikal itu kehilangan berat badannya secara drastis.

“Iya berat badannya menurun memang. Kalau enggak salah dirawatnya di rumah sakit selama empat bulan,” ucap Munawir.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang memberikan kejelasan mengenai sakit yang diderita Budi.
Sebelumnya, Budi Anduk mengawali karier di dunia hiburan sebagai figuran program Ngelaba 1996. Ia juga bermain di situasi komedi Tawa Sutra dan Untung Ada Budi. Beberapa film yang ia bintangi adalah Tiren: Mati Kemaren, Tulalit, Ku Tunggu Jandamu, Pesantren & Rock n’ Roll, ABG Jadi Manten.

Dikutip dari Solopos.com

Sabtu, 03 Oktober 2015

Pesawat Twin Otter Jatuh Dikenal mempunyai mesin yang bandel

PalingBeda - Pesawat jenis Twin Otter milik maskapai Aviastar yang hilang, Jumat (2/10) pukul 14.36 WITA adalah pesawat yang laik terbang. Menurut Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustofa Juraid secara teknis Twin Otter tidak bermasalah.

"Secara teknis pesawat tersebut tidak bermasalah dan layak untuk terbang," ucap Hadi saat ditemui Merdeka.com, Jakarta Sabtu (3/10). Pesawat jenis Twin Otter tergolong pesawat dengan mesin yang bandel.

Meskipun umurnya sudah tiga puluh tahun lebih, pesawat tersebut mampu terbang dengan baik. "Memang pesawat yang diproduksi tahun 81 usianya 34 tahun, tapi pesawat ini kategori pesawat yang bandel. Di negara lain, usianya lebih tua dari itu, masih dipakai," tutur Hadi.

Hadi juga menambahkan bahwa Twin Otter baru mengganti instrumen pesawatnya seperti baru. "Twin Otter itu dia punya satu instrumen penggantian jika itu diganti, pesawatnya sudah seperti baru lagi, 80 persen baru dan baru melakukan penggantian itu Januari kemarin," kata dia.

Pesawat yang diterbangkan Capt Iri Afriadi, Co Pilot Yudhistira, dan Enginer Sukris. DHC-6 Twin Otter jenis pesawat penumpang sipil sayap tinggi (high wing) yang paling sukses dalam sejarah program dirgantara Kanada. Pengembangan pesawat jenis bermesin turboprop itu dimulai tahun 1964.

Pesawat pertama yang diproduksi seri 100. Seri berikutnya, 200 meningkatkan performa STOL (short take-off and landing) serta menambah hidung pesawat yang lebih panjang dan kompartemen penyimpanan belakang yang diatur ulang. Seri 300 semakin meningkatkan performa pesawat dengan menambahkan mesin PT6A-27.

Refrensi: Merdeka.COM
Perangkat pendaratan Twin Otter dapat diganti dengan pelampung sehingga menjadi pesawat yang populer di Alaska dan sebelah utara Kanada. Di Indonesia pesawat bermesin turboprop itu banyak dioperasikan di kawasan timur yang fasilitas bandaranya masih minim.
[bal]

Rabu, 01 Juli 2015

Raksasa Farmasi Dunia Akan Beli Seribu Desa di Indonesia Untuk Bio-Testing

 
 Gambar pada laman utama situs perusahaan farmasi multinasional UMBRELLA 
Corporation. Perusahaan ini mengeluarkan pernyataan ambisius untuk 
membeli seribu wilayah desa di Indonesia untuk kepentingan laboratorium 
perintis dan bio-testing. Meski demikian, UMBRELLA juga berjanji untuk 
mengedepankan tanggung jawab perusahaan dengan bertanggung jawab penuh 
atas kesejahteraan warga desa yang mereka beli. (photo taken from 
facebook fanpage.
 
HONG KONG, POS RONDA – Perusahaan multinasional raksasa yang bergerak di bidang farmasi dan bio-rekayasa, UMBRELLA Corporation, menyatakan keinginannya untuk membeli lebih dari seribu wilayah desa di Indonesia.
Niat Umbrella tersebut dikemukakan oleh Direktur Pelaksana UMBRELLA untuk wilayah Asia dan Pasifik, Victorio Gionne, dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di kantor UMBRELLA di Hong Kong, kemarin (2/12).
Rencana pembelian seribu desa di Indonesia itu, berdasarkan pemaparan Gionne, berfungsi untuk pendirian laboratorium-laboratorium perintis UMBRELLA untuk penelitian lapangan. Dengan adanya laboratorium perintis ini, ia berharap agar penelitian dan pengembangan obat-obatan untuk kesejahteraan manusia bisa berjalan dengan lebih cepat.
“Ini adalah bagian dari program tanggung jawab perusahaan kami. Rencana kami di Indonesia tidak main-main dan kami serius. Dengan seribu desa, jangkauan penelitian lapangan dan bio-testing kami bisa lebih luas dan ini berkontribusi kepada pengembangan obat-obatan yang kami rencanakan. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk kesejahteraan warga desa. Kami akan dirikan klinik, sekolah, generator listrik, fasilitas komunikasi, dan menyediakan hibah untuk usaha-usaha kecil milik warga.” papar Gionne.
Ia melanjutkan, bahwa berdasarkan data yang ada terdapat sekitar 74 ribu desa di Indonesia, dengan 32 ribu diantaranya masih masuk kategori tertinggal. UMBRELLA akan masuk di desa-desa dengan kategori tertinggal agar dampak dari pembangunan laboratorium perintis bisa lebih besar dan nyata.
Berdasarkan pengamatan koresponden POS RONDA, dalam daftar desa yang akan dibeli banyak terdapat wilayah yang berlokasi di perbatasan dan tempat-tempat terpencil. Ini menimbulkan pertanyaan mengenai mungkin-tidaknya pembangunan laboratorium perintis bisa dilaksanakan mengingat keterbatasan infrastruktur yang ada. Meski demikian, Gionne mengatakan dirinya tidak khawatir dan merujuk kepada pengalaman mereka sebelumnya.
“Jaringan perusahaan kami sudah berpengalaman untuk membangun laboratorium perintis di wilayah-wilayah terpencil dan minim infrastruktur. Pengalaman kami mencakup beberapa dusun kecil di Spanyol, dan di Afrika Barat, tepatnya di zona otonomi Kijuju. Dari data yang ada, operasi kami cukup berhasil di wilayah-wilayah itu. Kami ingin Indonesia menikmati keberhasilan yang serupa.” ujar Gionne  dengan nada diplomatis.
Permasalahan lain yang akan dihadapi oleh UMBRELLA adalah kemungkinan penolakan dari pihak pemerintah dan masyarakat Indonesia. Bagaimana pun, upaya perusahaan tersebut adalah untuk membeli seribu wilayah desa, bukan sekedar investasi biasa.
Menanggapi hal ini, Gionne kemudian menyebutkan semakin mudahnya regulasi di Indonesia untuk investasi perusahaan asing. Ia mencontohkan bagaimana jasa kebandarudaraan sudah dikeluarkan dari daftar negatif investasi Indonesia.
“Kami akan memulai secara bertahap. Agar lebih mudah menuju ke tempat-tempat yang kami tuju, kami akan membangun bandara-bandara perintis sebagai bentuk kesungguhan kami berkontribusi pada Indonesia. Ini sudah kami pikirkan dan sesuai dengan regulasi investasi di Indonesia. Negeri Anda semakin memberikan kemudahan berinvestasi bagi perusahaan multinasional seperti kami, jadi kekhawatiran tersebut tidak ada. Tim kami sudah ada di Jakarta sejak dua tahun lalu, baik yang bertugas untuk melobi eksekutif dan legislatif, agar aturan-aturan yang menghambat investasi masuk bisa dikurangi. Dengan ini kami optimis bahwa dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, kami bisa membeli seribu wilayah desa secara resmi dan legal.” jelas Gionne optimis.
Dirinya juga menambahkan bahwa UMBRELLA berniat baik untuk bersama-sama memajukan Indonesia. Perusahaan tersebut bahkan berencana untuk mengembangkan lebih dari 5 ribu usaha kecil, dan siap menggelontorkan Rp 600 milyar untuk kepentingan tanggung jawab perusahaan di tahap pertama.
“Kami setuju bahwa perusahaan yang berinvestasi di Indonesia juga harus memberikan kemajuan bagi rakyatnya. UMBRELLA siap mengembangkan potensi Indonesia di bidang obat-obatan dan farmasi melalui inovasi. Pesan kami untuk Indonesia: kami tidak sabar untuk segera bekerja sama.” tegas Gionne mengakhiri konferensi pers itu.
 Desa Sei Limau, terletak di dekat perbatasan Indonesia dan Malaysia. Kategori desa-desa seperti inilah yang masuk daftar penawaran UMBRELLA untuk dibeli dan pembangunan laboratorium perintis. (photo courtesy batasnegeri.com)
Desa Sei Limau, terletak di dekat perbatasan Indonesia dan Malaysia. Kategori desa-desa seperti inilah yang masuk daftar penawaran UMBRELLA untuk dibeli dan pembangunan laboratorium perintis. (photo courtesy batasnegeri.com)
Meski UMBRELLA berjanji untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan warga dari desa yang wilayahnya akan dibeli, pengamat politik Robertinus Siagian di tempat terpisah menyatakan ragu atas tawaran perusahaan multinasional tersebut. Menurut Robertinus, pemerintah secara etika tidak diperkenankan menjual wilayah negerinya kepada perusahaan asing.
“Satu atau dua petak tanah itu soal lain, masalahnya yang mereka tawarkan adalah membeli seluruh wilayah desa, dan jumlahnya banyak sekali. Ini seakan pemerintah menjual warganya juga apabila proses ini jadi dilakukan. Saya harap pemerintah tidak akan takluk pada tawaran ini.” ujarnya saat dimintai pendapat pagi ini di Jakarta (3/12).
Robertinus tidak menampik pentingnya investasi asing. Menurutnya, itu diperlukan dalam usaha pembangunan, apalagi idealnya memang harus ada kerjasama antara triumvirat pihak pemerintah, swasta, dan civil society.
Meski demikian, pemerintah harus pintar-pintar dalam menyeleksi modal asing yang masuk ke Indonesia. Dalam kasus UMBRELLA, Robertinus mencium keanehan karena perusahaan tersebut bermaksud untuk membuat laboratorium obat dan farmasi di tempat-tempat terpencil.
“Menurut saya, itu jelas aneh. Laboratorium obat dan farmasi biasanya berada di tempat-tempat yang jelas dan terjamin infrastrukturnya seperti kawasan industri dan bisa diawasi oleh regulasi pemerintah. Mendirikan fasilitas tersebut di wilayah minim infrastruktur jelas tidak bagus dari business sense dan hukum. Seakan mereka tidak ingin diawasi apabila terjadi kesalahan.” papar Robertinus.
Kekhawatiran Robertinus memang berdasar, karena menurut laporan dari organisasi penegakan hak asasi manusia Saviors of the Hour, sepak terjang UMBRELLA patut untuk dipertanyakan. Menurut laporan Saviors, perusahaan tersebut sering terlibat dalam penelitian farmasi yang kontroversial dan disinyalir sering melakukan human-testing alias percobaan terhadap manusia.
Berdiri pada akhir dekade 1960-an, UMBRELLA mulai dikenal sejak dasawarsa 1990-an saat terkuak bahwa perusahaan itu secara rahasia mengembangkan senjata biologis melalui virus. Serangkaian insiden lain juga membuat UMBRELLA makin terpuruk dan harga sahamnya terus jatuh hingga pada 2004 dinyatakan bangkrut.
Setelah lama tidak terdengar, perusahaan diketahui kembali aktif dua tahun terakhir. Saat terjadi kasus gigitan di Piala Dunia 2014 di Brazil, nama UMBRELLA kembali mengemuka saat disinyalir menjadi salah satu donatur utama bagi badan penelitian GRIDPEC yang menitikberatkan fokus mereka pada kemungkinan fenomena zombie outbreak atau penyebaran virus zombie. (Sha01/jon1)

====