Tampilkan postingan dengan label Fenomena Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

MetroTV Anti Islam



MENGAPA METRO TV MEMBENCI UMAT ISLAM???
Kultuit Edy A Effendi @eae18
Mantan Wartawan & Penulis Editorial
Media Indonesia
Artis Ayu Azhari mengungkapkan, perkenalannya dengan Ahmad Fathanah tidak terkait urusan Partai Keadilan Sejahtera :
"Enggak ada hubungannya dengan partai. Dia (Fathanah) secara pribadi saja mengundang saya dan menjanjikan beberapa pekerjaan," kata Ayu di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, seusai diperiksa terkait kasus dugaan pencucian uang dengan tersangka Fathanah, Rabu (1/5/2013). [KOMPAS]
-----------------------------------------------------------------------------
Anehnya, Metro TV dalam siaran kemarin (1/5) malah menggiring opini bahwa Fathanah adalah politisi PKS. Padahal jelas-jelas PKS sejak muncul kriminalisasi LHI telah menjelaskan bahwa Fathanah bukan kader apalagi politisi PKS.
Bukan kali ini saja Metro TV memberitakan diluar fakta. Dulu Metro TV secara ngawur memberitakan "Rohis sarang Teroris'. Ada agenda tersembunyi apa dengan Metro TV?
Terkait pemberitaan tendensius Metro TV, berikut kutipan twit-twit dari Edy A Effendi @eae18 seorang jurnalis dan mantan Penulis Editorial Media Indonesia:
1.Duh ini Metro ko ya benci banget ke PKS.
2.Gak mungkn @Metro_TV lupa atau tak sengaja bilang Ahmad Fathanah politsi PKS. Itu jelas sengaja. Ada proses editing sblm tayang.
3.Percuma tindakan penistaan agama dan kebencian ke PKS jg ke kelompok Islam oleh @Metro_TV dilaporkan ke @KPI_Pusat. Paling minta maaf.
4.Kalau sy bicara spti ini dianggap dendam. Gak kok. Tak hanya @Metro_TV yg sy kritisi. Tempo dan TV One jg sering sy kritisi.
5.Selama orang seperti @PutraNababan dan Elman Saragih bercokol, selama itu kebencian ke kelompok Islam menguar. @NajwaShihab hny boneka.
6.@KPI_Pusat tak pernah beri "kartu merah" jg Dewan Pers. Karena elit kedua lembaga itu lbh dekat dg elit @Metro_TV. Sia-sia.
7.Para elit redaksi ketawa-tawa kok kalau dilaporkan ke @KPI_Pusat atau Dewan Pers. Krn mrk sadar, dua lembaga itu gak berani beri sanksi.
8.Hampir semua elit media akan senang kalau kasusnya diadukan ke @KPI_Pusat dan Dewan Pers, krn pasti aman. Yang paling bagus ya digulung.
9.Yang paling bagus ya didemo. Atau cara-cara preman2 Tommy Winata ketika nyruduk ke redaksi Tempo. Tindakan premans TW salah tp ya perlu.
10.Coba saja, mana berani Tempo hajar Tommy Winata lagi? Kawans pers ini acapkali arogan krn merasa pemegang kebenaran. Omong kosong itu.
11.Orang2 di luar media, pembaca n penonton, tak usah takut dg nama besar media. Media apapun. Bersifat tegas, somasi atau beri hak jawab.
12.Jika cara prosedural, somasi n hak jawab tak digubris, ya lakukan cara lain. Itu opsi paling elegan agar elit media sadar.
13.Tak usahlah para elit @Metro_TV berbohong. Sy tak benci Kristen. Itu hak pribadi. Tp kalian gunakan agama jd alat menistakan agama lain.
14.Bagi sy, Islam, Kristen, Buddha, Hindu, bahkan ateis pun, itu persoalan pribadi. Tapi jgn jadikan agama alat tuk menjatuhkan pihak lain.
15.Ini sama saja, jika orang mau jadi liberal atau "kafir" sekalipun. Silakan saja. Tapi jgn menyebar dagangan liberal ke pasar bebas.
16.Kompas bisa dijdikan contoh. Mereka belajar dr pengalaman. Media yg dikuasai kelompok Katolik ini, sadar akan peran sbg media.
17.Peran media itu mengabarkan fakta bukan rekayasa. Jika sudah ditunggangi kepentingan politik dan agama, itu sudah distortif. Sadarlah.
18.Ini semata2 melempangkan peran media dlm arus kehidupan publik. Jangan gadaikan aura pribadi/golongan untuk kepentingan hawa nafsunya.

Minggu, 22 Februari 2015

Islam adalah Agama Peradaban yang Menghargai Perbedaan

PBNU: Islam adalah Agama Peradaban yang Menghargai Perbedaan

BOGOR, KOMPAS.com- Ketua Umum PB NU KH Said Aqiel Siradj mengemukakan bahwa Islam merupakan agama Rahmatan lil'alamin yang mewujudkan tatanan hidup yang harmonis oleh setiap insan.
"Islam agama peradaban, berbudaya, akhlakul karimah menghargai perbedaan," katanya dalam pelantikan PCNU Kota Bogor periode 2014-2019 di Pesantren Hammalatul Quran Al-Falakiyah Pangentongan, Kota Bogor, Selasa (6/1/2015).
Ia mengisahkan, Islam pada puncak kejayaannya membawa prinsip insaniah, setelah Rasulullah 13 tahun di Mekkah hanya diikuti sekitar 130 sahabat, sisa penduduk Mekkah lainnya menentang dirinya hingga akhirnya Rasul terpaksa pindah ke Kota Yatsrib atau dikenal dengan Madinah.
Saat memasuki Kota Yatsrib, Rasul bertemu dengan masyarakat yang pluralisme yang terdiri dari muslim pribumi (Ashor), muslim pendatang (Muhajirin) dan non muslim (Yahudi).
"Nabi masuk Kota Yastrib sudah mendapati masyarakat yang beragam ada tiga suku didalamnya," katanya.
Pada masa itu, lanjutnya, Rasulullah SAW sudah membangun konstitusi yang maju tidak berdasarkan suku, agama maupun budaya. Hal ini yang menjadikan Kota Yastrib berganti nama menjadi Madinah yakni Kota Peradaban.
Dikatakannya, dalam Piagam Madinah, tidak dijumpai lafal Islam dan Arab. Adanya persatuan dan kesatuan tidak memadang agama maupun suku.
"Semua penduduk Kota Yastrib sama dalam hak dan kewajibannya, tidak ada permusuhan kecuali pada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena agama dan suku," katanya.
Namun sekarang, lanjut Aqiel, kondisi umat muslim mengalami kemerosotan dan kemunduran dengan mengataskan agama saling bermusuhan.
Ia menyebutkan, Nabi tidak pernah memproklamirkan adanya negara Islam dan peradaban. Tetapi peradaban tanpa Islam akan kering, oleh karena itu Islam dan Peradaban harus sejalan. Seperti banyak negara Islam di dunia, Mesir, Irak, Iran, Afganistan, Suriah, semua memeluk Islam, tetapi peperangan masih terjadi sampai saat ini.
Ia mengatakan, diperlukan sikap pemaaf untuk menjadi pemimpin yang disegani, seperti yang diteladani Rasulullah. Pada tahun 8 Hijriah, Rasul bersama umat Islam yang berjumlah 15.000 berhasil masuk ke Mekkah.
"Yang dilakukan Nabi adalah mengatakan barang siapa yang berlindung di Masjid, akan aman, berada di rumah tokoh Qurais akan aman, yang berada di rumah juga aman. Dengan sikap pemaaf itu semua penduduk Mekkah masuk Islam," katanya.
Dikatakannya, penduduk Mekkah masuk Islam karena akhlah, sifat pemaaf, ramah dan satunnya Rasulullah SAW, mereka berempati hingga semuanya memeluk ajaran Tauhid.
Rasulullah, terus berjihad mengembangkan Islam, mendatangi sejumlah wilayah. Hingga pada tahun 40 Hijriah saat Syaidina Ali Bin Abi Thalib dibunuh oleh Abdurahman Bin Rojam yang mengatakan Ali kafir karena menerapkan hukum musyawarah seperti DPR.
"Tahukan siapa yang membunuh Ali, yakni orang yang rajin ibadahnya, khatam Al-Quran, setiap malam shalat tahajud. Tetapi karena memahami Al-Quran secara pendek, ia membunuh Ali, yang merupakan keponakan Nabi, menantu dan Nabi dan pemuda yang dijamin Allah masuk syurga," kata Aqiel.
Aqiel menambahkan, radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Jahiliyah, makan karena itu, harus dimusuhi secara bersama-sama.
Ia menegaskan, dalam Islam mengajarkan peradaban dan budaya akhlakul karimah dengan menghargai perbedaan. Dalam Al-Quran ditegaskan, tidak boleh ada ancaman dalam Islam, baik yang dilakukan oleh bapak kepada anaknya sendiri.
"Dalam Islam tidak boleh ada kekerasan dalam urusan agama, tidak ada urusan agama dalam kekerasan. Apa yang dilakukan ISIS, membantai syiah itu bukan cara Islam, cara Islam bukan kekerasan," katanya.



Editor : Fidel Ali Permana
Sumber: Antara